PERAN PENTING KEBUN KARET CAMPUR

PERAN PENTING KEBUN KARET CAMPUR SEBAGAI PENEKAN PEMANASAN GLOBAL

“Pemerintahan Kerajaan Inggris sangat tertarik untuk melihat lebih dekat fungsi Kebun Karet Campur yang ada diLubuk Beringin. Kami ingin megetahui bagaimana masyarakat setempat mengelolanya dan memanfaatkan aliran sungai menjadi pembangkit listrik – ujar DR. Rob Daniel, First Secretary Duta Besar Inggris untuk Indoensia ”

Kunjungan First Secretary Duta Besar Inggris untuk Indonesia ke Dusun Lubuk Beringin pada tanggal 28 Januari 2009 ini adalah yang pertama kalinya sejak 3 bulan lalu dia menduduki kursi First Secretary Kantor Kedutaan Inggris untuk Indonesia. Tugas utama beliau adalah membantu negara Indonesia untuk mengatasi dan mempersiapkan kegiatan yang terkait dengan perubahan iklim dunia.

Kehadirannya ke Lubuk Beringin selama sehari untuk melihat kebun karet campur, pembangkit listrik tenaga kincir air yang digagas masyarakat ketika mendapatkan dana dari program RUPES (Rewarding Upland Poor for Environmental Services) di Bungo dan koperasi kelompok wanita Dahlia yang berhasil mengelola dana bantuan mikro finance dari sejak proyek ICDP dan MFP-II (Multistakeholder Forestry Programme phase II yang berasal dari Pemerintah Inggris).

Ketika berdiskusi diruang Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bungo (BAPPEDA) beliau menyampaikan tujuan kedatangannya adalah:

  1. Mengembangkan hubungan Pemerintah Inggris dengan Indonesia
  2. Mengembangkan proses belajar

Dukuangan yang akan diberikan oleh Pemerintah Inggris adalah meningkatkan kapasitas negosiasi negara Indonesia pada konferensi perubahan iklim di Kopenhagen di tahun 2009 ini dan bagaimana mengimplementasikannya hasil konferensi tersebut.

Tantangannya adalah:

  1. Akibat perubahan iklim bagi negara-negara berkembang.
  2. Pertumbuhan ekonomi dengan pengurangan emisi karbon.
  3. Penjualan karbon untuk pembangunan Indonesia.

Caranya adalah:

  1. Pendekatan emisi karbon
  2. Pendekatan ekosistem dan hutan berbasis masyarakat.

Salah satu tempat di Indonesia yang menarik untuk perdagangan karbon adalah Jambi. Seperti yang disampaikan Ketua BAPPEDA Bungo bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bungo sangat mendukung inisiasi kehutanan berbasis rakyat dan sistem kelola rakyat yang lain yang menjaga hutan berdasarkan kearifan lokal masyarakat Bungo. Bentuk dukungan Pemkab Bungo seperti:

  1. Surat Keputusan (SK) Bupati No.1249 tahun 2002 tentang Pengukuhan Hutan Adat Desa Batu Kerbau.
  2. Peraturan Daerah (PERDA) No. 03 tahun 2006 tentang pengakuan Masyarakat Hukum Adat Datuk Sinaro Putih.
  3. PERDA No. 9 tahun 2007 tentang Perubahan penyebutan Kepala Desa menjadi Rio; Desa menjadi Dusun dan Dusun menjadi Kampung.
  4. Pengesahan dusun Lubuk Beringin sebagai Hutan Desa yang pertama di Indonesia yang akan diresmikan dan diserahkan oleh Menteri Kehutanan MS. Kaban kepada Bupati Bungo H.Zulfikar Achmad pada tanggal 30 Maret 2009.

Selain sebagai tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi berjuta-juta kehidupan flora dan fauna peran kebun karet campur sangatlah penting untuk mengurangi pamanasan iklim global. Kondisi kebun karet campur yang mempunyai kerapatan tajuk yang rapat menyerupai hutan sekunder menjadikan program andalan pemerintah kabupaten Bungo untuk menjadi Daerah Pembangunan Bersih (clean devolepment).

Dimasa krisis pasar global tahun 2009 ini petani karet di Bungo banyak menjerit perih, karena mereka terlanjur berhutang dengan Toke/Tengkulak. Sementara dengan harga karet ditingkat Dusun berkisar Rp 2.500 – 3.500/kg (KKK 50% – 60%). Akan tetapi dengan petani karet campur masih mendapat keuntungan dengan menjual buah Durian, Duku dan Petai. Harga buah Durian berkisar antara Rp 3.000-5.000/buah. Begitu pula dengan Duku harga perkgnya berkisar Rp 5.000 – 7.000. Sedangkan petai seikat (berisi 5 papan) seharga Rp 3.000 – 4.000.

Selain itu fungsi dari kebun karet campur adalah pelindung hydrologi. Untuk menjaga kebersihan aliran sungai disepanjang tepian sungai sebaiknya ditanam karet. Keuntungan yang dirasakan oleh masyarakat Dusun Lubuk Beringin dari aliran sungai ini menjadi energi alternatif untuk membangkitkan listrik. Sehingga Dusun ini tidak lagi gelap gulita walaupun di era Merdeka!!!

Oleh. Ratna Akiefnawati dan Jasnari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: