Bungo Face

peta15Latar Belakang

Secara geografis Kabupaten Bungo berada pada posisi antara 01008’ sampai 01055’ Lintang Selatan dan antara 101027’ sampai 102030’ Bujur Timur. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tebo dan Kabupaten Dharmasraya (Sumbar), sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Merangin, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Dharmasraya (Sumbar) dan Kabupaten Kerinci serta sebelah timur dengan Kabupaten Tebo.

Luas Kabupaten Bungo adalah 7.160 km2 dengan topografi datar, berbukit bukit hingga curam dengan ketinggian antara 100 hingga lebih dari 1.000 m dpl. Merupakan daerah beriklim tropis dengan curah hujan 2.577mm/tahun (138 hari/tahun) dengan jenis tanah yang mendominasi adalah latosol, podsolik, komplek latosol dan andosol (BAPPEDA dan BPS, 2006).

Kondisi lahan di Kabupaten Bungo secara umum adalah morfologi datar, bertekstur agak kasar dengan ketersediaan air yang cukup karena dilalui 4 buah sungai besar. Lahan bergelombang dengan kemiringan tanah kurang dari 40% yang mencapai 80% dari luas wilayah. Kondisi ini sangat cocok untuk pengembangan tanaman perkebunan. Sedangkan sisanya sebanyak 20% luas wilayah dengan kemiringan lebih dari 40% termasuk dalam kawasan lindung (BAPPEDA dan BPS, 2006).

Penggunaan lahan Kabupaten Bungo memiliki kawasan hutan dengan luas 241.654 ha atau 33,75% dari luas wilayah dan lahan perkebunan seluas 284.873, 25 ha atau 39,79% dari luas wilayah Kabupaten Bungo. Penggunaan lahan yang cukup besar pada kedua sektor tersebut memberikan gambaran bahwa kehutanan dan perkebunan merupakan sektor yang cukup besar peranannya di Kabupaten Bungo. (BAPPEDA dan BPS, 2006).


Tabel 1. Jenis Penggunaan Lahan di Kabupaten Bungo

tabel13


Sumber : BAPPEDA Kabupaten Bungo (2006)


Sejalan dengan otonomi daerah, seperti daerah lainnya Kabupaten Bungo juga menggali dan memanfaatkan semua potensi sumberdaya alam dan lingkungan untuk dapat mendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam melaksanakan pembangunan daerah melalui kegiatan-kegiatan yang memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjamin kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan.


Responses

  1. Saat ini bungo menggeliat. desakan ekonomi vs kelestarian lingkungan menjadi tema yang biasa didengungkan. sayangnya seringkali lingkungan kalah melawan kehendak perut. “atas nama rakyat”, alasannya.
    bantu kami mencarikan jalan keluar yang lebih bijak.

  2. tantangan sekarang dan ke depan semakin kompleks. isu konservasi ibarat suara sayup yang sering terdengar namun “dikalahkan” kepentingan politik dan orientasi investasi. dari sini,kami berangkat menyuarakan kepedulian sambil belajar dari rekan-rekan yang peduli terhadap tema besar yang kami usung.Mari berbuat sesuatu untuk bungo yang lebih baik!

  3. Mungkin kita perlu kembali kearah sistem sosialis… agar kebersamaan diatas segalanya. Bukan memperlebar jurang antar kaya dan miskin, termasuk pengelolaan lingkungan. Dibungo dapat dilihat ironi antara perjuangan mengangkat hutan desa/ kebun lindung dengan eksploitasi batu bara yang melibatkan semua pihak. Kadang sama orangnya namun lain tujuannya….

  4. Memang tak cukup hanya mengkampanyekan tentang nilai-nilai pelestarian lingkungan saat kita berhadapan dengan orang-orang yang selalu berorientasi kepada sisi ekonomi belaka dan parahnya juga punya akses kekuasaan. Perubahan sosial ditataran akar rumput mungkin adalah salah satu wacana yang bisa diapungkan untuk menambah daya ledak kegiatan komunitas ini. Saatnya untuk melibatkan masyarakat di tingkat desa/dusun sebagai agen perubahan sosial. mau dan mampukah kita?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: